DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA MENDUKUNG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN KORUPSI    |    SERTIFIKASI PERIKANAN BUDIDAYA, JAMINAN KEAMANAN PANGAN DAN PENINGKATAN KUALITAS PRODUK MENUJU PASAR BEBAS ASEAN 2015    |    PERIKANAN BUDIDAYA MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN, MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN MENYERAP TENAGA KERJA    |    TINGKATKAN PRODUKSI, HAPUS KORUPSI    |    UNTUK SARAN DAN PENGADUAN DAPAT MENGHUBUNGI TELP/FAX (021) 3514779 ATAU EMAIL PENGADUAN.DJPB@KKP.GO.ID    |   

PERBENIHAN

MKP LAKUKAN KUNJUNGAN KE BBPBAP JEPARA, TINJAU PABRIK PAKAN IKAN MANDIRI

Menteri Kelautan dan Perikanan (Menteri KP), Susi Pudjiastuti, melakukan kunjungan ke Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, setelah melakukan temu wicara dan bertatap muka dengan para nelayan dan petambak garam di Desa Kedung Malang, Kab. Jepara, Senin (5/9).

Kunjungan yang dilakukan oleh Menteri Susi Pudjiastuti ini, bertujuan untuk melihat teknologi terbaru di bidang perikanan budidaya, yang sedang dan telah dikembangkan oleh BBPBAP Jepara, dalam mendukung pembangunan kelautan dan perikanan.

Pada kesempatan tersebut, Menteri KP melakukan peninjauan ke Pabrik Pakan Ikan Mandiri yang mampu menghasilkan pakan ikan mandiri sebanyak 2 ton per jam atau 10 ton per hari. “Pabrik pakan ikan mandiri seperti ini, telah di bangun di 10 Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB), seperti di Jambi, Kalimantan Selatan, Sukabumi dan Jepara. Pakan ikan mandiri yang diproduksi oleh pabrik ini akan diberikan kepada pembudidaya dan sifatnya adalah sebagai bantuan. Seperti halnya bantuan benih kepada para pembudidaya”, disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, saat mendampingi kunjungan Menteri KP, Susi Pudjiastuti.

Keunguulan pakan ikan mandiri produksi BBPBAP Jepara ini adalah kandungan enzim yang membantu proses pencernaan ikan. “Enzim tersebut dihasilkan dari papaya, yang dapat membantu system pencernaan pada ikan, sehingga ikan lebih efektif dan efisien dalam menggunakan pakan. Dan hasil akhirnya adalah mengurangi penggunaan pakan ikan itu sendiri. Harga pakan ikan mandiri yang dihasilkan oleh BBPBAP Jepara adalah Rp. 6.000,- per kilogram”, jelas Slamet.

Menteri KP, Susi Pudjiastuti juga melakukan panen udang windu di tambak BBPBAP Jepara. Menteri Susi mengharapkan agar budidaya udang windu ini terus dikembangkan, karena udang windu adalah udang asli Indonesia. Sehingga apabila nanti muncu kendala dalam usaha budidaya udang vaname, masyarakat sudah memiliki alternative berupa budidaya udang windu. “Teknologi budidaya udang windu sudah dikuasai oleh BBPBAP Jepara. Induk udang windu yang disiapkan sudah mencapai F 8 dan memiliki fekunditas sama seperti induk udang dari alam. Bahkan memiliki keunggulan, bebas dari penyakit. Sehingga, selain kualitasnya terjaga, kontinyutasnya terjamin, juga mendukung kelestarian sumber daya alam”, jelas Slamet.

Menteri Susi juga mengapresiasi upaya BBPBAP Jepara dalam melakukan domestikasi udang merguensis yang juga asli Indonesia. Slamet menambahkan bahwa udang merguensis, dulunya dikenal dengan nama udang setan. “Disebut udang setan karena pada saat dipanen, tidak ada udang di tambak tersebut. Tapi hal ini sudah dapat diatasi dengan upaya pemasangan plastic di tambak atau plastikisasi. Sehingga, hasil budidayanya sudah dapat dikontrol oleh pembudidaya. Benih udang merguensis ini juga sudah dihasilkan dan tersedia di BBPBAP Jepara”, terang Slamet.

Menteri Susi Pudjiastuti juga melakukan penebaran benih rajungan hasil budidaya sebanyak 100 ribu ekor, yang merupakan hasil pembenihan yang dilakukan oleh BBPBAP Jepara. Penebaran benih atau restocking rajungan hasil budidaya ke alam, bertujuan untuk memperkaya sumberdaya ikan yang ada di perairan, khususnya di perairan laut Bulu, Jepara, Jawa Tengah.

Slamet juga menambahkan bahwa sesuai arahan Ibu Susi Pudjiastuti, bahwa saluran irigasi tersier yang berada di kawasan tambak garam di Jepara, juga harus di tebari ikan, dengan sebelumnya di tanami pohon bakau atau mangrove. Untuk mendukung hal tersebut, DJPB akan menyiapkan excavator dan benih ikan. “Ini dalam rangka menjaga kawasan tambak garam agar tetap hijau dan berfungsi sebagai green belt, untuk menghindari abrasi. Benih udang windu dan bandeng akan berasal dari BBPBAP Jepara, sebagai bagian dari program restocking”, papar Slamet.

Penebaran benih atau restocking rajungan hasil budidaya ke alam, bertujuan untuk memperkaya sumberdaya ikan yang ada di perairan, khususnya di perairan laut Bulu, Jepara, Jawa Tengah.

BANTUAN KKP UNTUK PEMBUDIDAYA JAWA TENGAH

Menteri Kelautan dan Perikanan, juga menyerahkan bantuan bagi para pembuidaya di Jawa Tengah. Bantuan yang diberikan adalah 10 juta ekor benih udang windu, 1  juta ekor benih ikan nila salin, 500 ribu ekor benih bandeng, 10 juta ekor benih udang vaname, 500 ribu ekor benih udang galah, 5 ton pakan ikan mandiri, 5 ton bibit rumput laut kultur jaringan, bantuan sarana dan prasarana produksi budidaya, pakan alami artemia, bahan baku pakan dan juga bantuan pengelolaan irigasi tambak partisipatif (PITAP).

“Diharapkan bantuan ini dapat menjadi pemicu semangat dan mendorong motivasi para pembudidaya di Jawa tengah. Yang tentu saja akan berdampak pada peningkatan produksi dan kesejahteraan masyarakat. Tentunya usaha budidaya yang dilakukan juga harus mendukung keberlanjutan dan mendorong kemandirian”, kata Slamet.

Kebijakan pembangunan perikanan budidaya yang mandiri, berdaya saing dan berkelanjutan, yang selaras dengan tiga pilar pembangunan nasional, menjadi dasar bagi pemerintah untuk memberikan bantuan. “Setelah bantuan diberikan, pembudidaya harus mengembangkan usahanya secara mandiri, dan bahkan di dorong untuk menjadi pengusaha kecil yang tidak lagi bergantung dari bantuan pemerintah”, pungkas Slamet.