DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA MENDUKUNG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN KORUPSI    |    SERTIFIKASI PERIKANAN BUDIDAYA, JAMINAN KEAMANAN PANGAN DAN PENINGKATAN KUALITAS PRODUK MENUJU PASAR BEBAS ASEAN 2015    |    PERIKANAN BUDIDAYA MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN, MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN MENYERAP TENAGA KERJA    |    TINGKATKAN PRODUKSI, HAPUS KORUPSI    |    UNTUK SARAN DAN PENGADUAN DAPAT MENGHUBUNGI TELP/FAX (021) 3514779 ATAU EMAIL PENGADUAN.DJPB@KKP.GO.ID    |   

PRODUKSI DAN USAHA BUDIDAYA

BUDIDAYA IKAN HIAS AIR LAUT SKALA RUMAH TANGGA, WUJUD KEMANDIRIAN BANGSA

Perkembangan produksi ikan hias Indonesia, dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Produksi ikan hias pada tahun 2011, mencapai 945,3 juta ekor dan meningkat menjadi 1, milyar ekor pada tahun 2015, atau meningkat sekitar 9 % per tahun.  Keanekaragaman hayati Indonesia, mejadikan Indonesia salah satu produsen dari  lima besar eksportir ikan hias terbesar di Dunia, setelah Singapura, Spanyol, Jepang dan Republik Ceko.

“Ikan hias baik dari air tawar maupun air laut Indonesia, sangat diminati oleh pasar, baik pasar domestik, regional dan bahkan internasional, dengan nilai ekspor pada tahun 2014 mencapai USD 20,86 juta. Oleh karena itu, sebagai bagian tanggung jawab dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB), untuk mengembangkan ikan hias hasil budidaya, baik air tawar maupun air laut. Khusus untuk ikan laut, sedikit demi sedikit, kita mulai kuasai teknologi pembenihan dan pembesarannya, sehingga tidak lagi tergantung dari alam dan mendukung keberlanjutan lingkungan”, demikian disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, di sela-sela kegiatan kunjungan Menteri Kelautan dan Perikanan di Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon, Jumat (16/12/2016).

Teknologi budidaya ikan hias khususnya ikan hias air laut, telah dikembangkan oleh BPBL Ambon. “ikan hias air laut seperti Clown fish, Mandarin Fish, Banggai Cardinal Fish dan Blue Devil, telah berhasil dikembangkan dan dikuasai teknologinya. Saat ini BPBL Ambon juga tengah melakukan domestikasi untuk ikan hias Letter Six atau Dori dan juga Angel Piyama. Ini sebagai wujud komitmen dari Kementerian Kelautan  dan Perikanan (KKP) melalui DJPB untuk melindungi alam dan memanfaatkan potensi alam Indonesia secara bijaksana dan ramah lingkungan serta berkelanjutan”, terang Slamet.

“Kemampuan untuk memproduksi ikan hias air laut dari unit pembenihan, saat ini bukan hanya bisa dilakukan oleh pemodal besar. Masyarakat biasa dengan modal terbatas atau relative terjangkau dapat melakukan usaha pembesaran atau pendederan ikan hias, khususnya Clown fish. Dengan teknologi resirkulasi terapan dan dengan modal sekitar Rp. 3,5 juta, pembesaran ikan clown fish dapat dilakukan di belakang rumah”, kata Slamet.

 Sistem resirkulasi dalam pembesaran Clown fish skala rumah tangga, telah dikembangkan oleh BPBL Ambon. Dengan modal awal sekitar Rp. 3,5 juta, dalam waktu empat bulan, dapat dihasilkan Rp. 10 juta. “Ini sungguh usaha yang menguntungkan dan dapat dilakukan oleh ibu rumah tangga. Benih ukuran 1 cm dapat diperoleh dari BPBl Ambon, masyarakat membesarkannya sampai ukuran 4 cm dan bisa menjualnya. Saat ini sudah ada 30 kelompok yang melakukan usaha ini dan sudah menarik minta kelompok lainnya”, jelas Slamet.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, mengapresiasi hasil kegiatan BPBL Ambon yang telah berhasil membudidayakan ikan hias laut. Susi mengatakan bahwa dengan teknologi pembenihan dan budidaya yang telah dikuasai, tidak perlu lagi mengambil ikan hias laut dari alam, sehingga tidak merusak ekosistem. Bahkan, Banggai Cardinal Fish telah berhasil dikeluarkan dari daftar CITES, karena Indonesia telah berhasil membenihkan dan membesarkannya.

Kunjungan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, ke BPBL Ambon merupakan rangkaian dari kunjungan MKP di Ambon. Selain di BPBl Ambon, MKP juga melakukan kunjungan ke Desa Malarela, untuk meresmikan Kebun Kima, memberikan kuliah Umum di Universitas Pattimura dan juga melakukan penebaran benih ikan di Karamba Jaring Apung (KJA) Emas Biru Kodam Pattimura dan juga ke SUPM Waiheru, Ambon.

 

PROGRAM EMAS BIRU KODAM PATTIMURA

 

Program Emas Biru merupakan program yang dicanangkan oleh Panglima KODAM XVI/Pattimura, Mayjen Doni Monardo, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Maluku melalui kegiatan perikanan dan kelautan. “Program Emas Biru ini, akan mendorong para anggota TNI untuk melakukan budidaya ikan khususnya ikan laut atau Marikultur, dan mengajak masyarakat untuk melakukan budidaya. Ini tidak terlepas dari potensi kelautan dan perikanan Maluku yang cukup besar. Wilayahnya yang terdiri dari pulau-pulau dan sebabgai besar adalah laut, sangat cocok untuk budidaya ikan laut. Ditambah lagi bahwa Pertahanan Bangsa akan meningkat, apabila kesejahteraan masyarakatnya meningkat”,  ungkap Doni.

Keikutsertaan anggota TNI untuk berbudidaya ikan laut ini tentunya juga akan mampu mewujudkan kedaulatan bangsa. “Para anggota TNI dapat menjadi contoh dan tauladan bagi masyarakat sehingga masyarakat akan melakukan usaha yang tidak merusak lingkungan dan sekaligus memperoleh penghasilan. Sekaligus dalam rangka mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, yang berkedaulatan, berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyaraktnya”, pungkas Slamet.