DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA MENDUKUNG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN KORUPSI    |    SERTIFIKASI PERIKANAN BUDIDAYA, JAMINAN KEAMANAN PANGAN DAN PENINGKATAN KUALITAS PRODUK MENUJU PASAR BEBAS ASEAN 2015    |    PERIKANAN BUDIDAYA MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN, MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN MENYERAP TENAGA KERJA    |    TINGKATKAN PRODUKSI, HAPUS KORUPSI    |    UNTUK SARAN DAN PENGADUAN DAPAT MENGHUBUNGI TELP/FAX (021) 3514779 ATAU EMAIL PENGADUAN.DJPB@KKP.GO.ID    |   

UPT

SOSOK RUSPAN, POTRET KEBERHASILAN PEMBENIH IKAN PAPUYU (ANABAS TESTUDINEUS )

Ikan papuyu merupakan ikan spesifik lokal di Indonesia yang secara intensif telah dikembangkan pembudidayaannya sejak Tahun 1997 di Kalimantan Selatan oleh BPBAT Mandiangin, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) Kementerian Kelautan dan Perikanan. Sebelum tahun 2009, keberhasilan produksi benih ikan papuyu masih dalam skala kecil, namun telah ditemukan teknologi pemijahannya untuk menghasilkan larva secara massal. Setelah itu, produksi benih ikan papuyu mulai menunjukkan kuantitas yang lebih banyak dengan kisaran produksi 30.000 – 70.000 ekor benih ukuran 2-3 cm per bulan dengan menerapkan teknologi pendederan sistem green water melalui aplikasi pemupukan dan pengelolaan pakan alami. Hingga kini, produksi benih ikan papuyu semakin meningkat seiring dengan permintaan benih di masyarakat.

Produksi massal dan semakin meluasnya distribusi benih ikan papuyu di masyarakat tak lepas dari peran BPBAT Mandiangin dalam melakukan alih teknologi pembenihan ke masyarakat hingga terbentuk beberapa Unit Pembenihan Rakyat (UPR) binaan yang menerapkan teknologi pembenihan dan berhasil memproduksi benih ikan papuyu secara massal. Kawasan pembenihan ikan papuyu hasil binaan BPBAT Mandiangin dapat ditemui di lokasi Transmigrasi Irigasi II UPT Riam Kanan, Desa Sungai Batang, Kecamatan Martapura Barat, Kab. Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Pembenihan ikan papuyu di Desa Sungai Batang mulai berlangsung pada Tahun 2009 sejak dilakukannya pembinaan teknologi pembenihan ikan papuyu di desa tersebut.

Adalah Ruspan (45 th) yang masih konsisten memproduksi benih ikan papuyu. Ini dibuktikan dengan kegiatan pada unit pembenihan ikan beliau yang hanya memproduksi benih ikan papuyu hingga sekarang untuk melayani permintaan benih di masyarakat dalam jumlah massal, sedangkan benih ikan papuyu bagi pembenih lain masih sebagai komoditas sampingan.

Sebagai salah satu warga pendatang, Ruspan memulai usaha pembenihan ikan mas sejak tahun 2007.  Bapak dari tiga anak ini melakukan usaha pembenihan ikan bersama dengan kakaknya yang telah lebih dulu menggeluti usaha pembenihan ikan di Kalimantan Selatan. Seiring dengan perjalanan waktu, beliau berkeinginan untuk hidup lebih mandiri untuk menghidupi keluarganya.   

Awalnya, sekitar bulan November 2008, Staf BPBAT Mandiangin berkunjung ke Desa Sungai Batang untuk berdiskusi tentang perlunya melestarikan ikan spesifik lokal Kalimantan, khususnya ikan papuyu, dengan cara menggalakkan kegiatan pembudidayaannya. Inilah peristiwa pertama kalinya Ruspan mengenal ikan papuyu dan teknologi pembenihannya secara singkat.

Gayung bersambut, beliau sangat tertarik untuk menekuni teknologi pembenihan ikan papuyu tersebut, dengan alasan belum banyaknya masyarakat yang melirik usaha pembenihan ikan papuyu. Bermodal dengan kolam sebanyak enam petak masing-masing ukuran 7 m x 7 m pinjaman dari kakaknya, beliau mulai merintis usaha pembenihan ikan papuyu didampingi oleh tenaga teknis BPBAT Mandiangin. Bukan hal yang sia-sia, keringat dalam usaha perintisannya ini menghasilkan 25.000 – 40.000 ekor benih ikan papuyu ukuran 2-3 cm dalam masa pembenihan 35 hari, dan hanya berlangsung selama dua siklus. Setelah itu, sekitar antara tahun 2009 – tahun 2011, beliau mulai memberanikan diri untuk menyewa tiga lokasi tanah kolam masyarakat yang tidak termanfaatkan, seluas 7.500 m2. Tiga lokasi perkolaman tersebut memiliki kolam sebanyak sembilan petak, dengan rerata luasan masing-masing 10 m x 13 m. Dengan lahan sewaannya yang baru ini, beliau mampu menghasilkan benih ikan papuyu sebanyak 70.000 – 90.000 ekor benih ikan papuyu per siklus pembenihan, mampu melunasi hutang-hutang, menyekolahkan kedua anak, dan membiayai persalinan istrinya hingga dikaruniai anak ke-3, serta membeli sebuah motor roda dua.

Menurut pengakuan Ruspan, pada tahun 2012, fase pertumbuhan usahanya mulai memperlihatkan peningkatan. Meski masa kontrak lahan kolam sewaannya telah habis, beliau tidak pernah kehabisan akal untuk mengembangkan keahliannya dalam produksi benih ikan papuyu, hingga datanglah pemodal yang menjamin keberlangsungan kegiatan pembenihannya tersebut. Lembaran baru usaha beliau pada tahun ini diiringi dengan penataan sistem produksi benih yang lebih rapi, didukung dengan lahan pembenihan seluas 5.000 m2. Dengan usaha kerjasamanya ini, beberapa investor juga terpikat untuk ikut andil dalam usahanya. Hingga kini, lahan pembenihannya bertambah menjadi 8.000 m2 di bawah kendali beliau dengan tingkat produksi secara kontinu sebesar 130.000 – 200.000 ekor benih ikan papuyu ukuran 2-3 cm per bulan. Selang setahun dari awal karir kerja sama pembenihannya, beliau mengaku bahwa perekonomiannya sangat terbantu dengan adanya usaha pembenihan ikan papuyu ini hingga mampu membeli tanah lahan budidaya seluas 2.500 m2.

Perjalanan dan perjuangan Ruspan untuk memperbaiki perekonomian keluarganya melalui usaha pembenihan ikan papuyu ini tidaklah selalu berjalan mulus. Ruspan menambahkan  bahwa keberhasilan usaha pembenihan ini memerlukan tekad yang kuat dibalut dengan ketulusan, karena musti ditemui banyak kendala selama usaha secara teknis, alam, maupun sosial. “Kesabaran diperlukan jika datang musim pancaroba yang menyebabkan terjadinya fluktuasi suhu yang ekstrim, mengakibatkan larva tebar atau benih siap panen rentan, bahkan menjadi gagal panen karena terserang penyakit jamur. Selain harus menguasai teknologi pembenihannya secara teliti, pelaku usaha harus menjaga kepercayaan konsumen dengan cara memberikan pelayanan terbaik bagi konsumen dengan menciptakan benih yang berkualitas, dan juga menjaga kepercayaan investor”, ujar Ruspan saat dimintai keterangan.

Menjaga hubungan baik dengan lingkungan sekitar dan BPBAT Mandiangin selaku Unit Pelaksana Teknis yang mendampingi usaha pembenihan juga menjadi penentu keberhasilan usaha. Beliau juga menyampaikan pesan moral bahwa ilmu harus digali tanpa pandang umur, ikhtiar harus dilakukan dengan kesabaran, sedangkan hasil harus disyukuri sebagai pemberian Tuhan.