DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA MENDUKUNG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN KORUPSI    |    SERTIFIKASI PERIKANAN BUDIDAYA, JAMINAN KEAMANAN PANGAN DAN PENINGKATAN KUALITAS PRODUK MENUJU PASAR BEBAS ASEAN 2015    |    PERIKANAN BUDIDAYA MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN, MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN MENYERAP TENAGA KERJA    |    TINGKATKAN PRODUKSI, HAPUS KORUPSI    |    UNTUK SARAN DAN PENGADUAN DAPAT MENGHUBUNGI TELP/FAX (021) 3514779 ATAU EMAIL PENGADUAN.DJPB@KKP.GO.ID    |   

UPT

PENUHI KEBUTUHAN KONSUMSI IKAN, BPBAT MANDIANGIN KENALKAN LELE BIOFLOK DI BANJAR BARU

Ikan lele menjadi salah satu komoditas air tawar yang kini mulai digemari dan permintaannya di berbagai daerah semakin meningkat terutama bagi masyarakat Kalimantan Selatan yang semula tidak mengkonsumsi ikan lele. Kota Banjarbaru dengan komposisi masyarakatnya yang plural menjadi pioner dalam mempopulerkan ikan lele termasuk dalam hal budidayanya. 

Dalam memenuhi kebutuhan ikan lele di Kota Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Mandiangin memperkenalkan teknologi budidaya ikan lele dengan sistem bioflok kepada pembudidaya di Kota Banjarbaru.  Sistem bioflok untuk budidaya ikan lele semi intensif dengan memanfaatkan lahan yang terbatas, hemat air dan menghasilkan produktivitas yang tinggi dipandang cocok untuk diterapkan di Kota Banjarbaru dengan lahan budidaya yang relatif sempit.  Penerapan sistem bioflok secara luas di masyarakat diharapkan mampu meningkatkan produksi ikan lele sehingga dapat memenuhi kebutuhan konsumen yang semakin meningkat.  

Salah satu pembudidaya yang didampingi oleh BPBAT Mandiangin dalam menerapkan sistem bioflok adalah Ismail (55 th).  Beliau mengawali usaha budidaya sebelum tahun 2013 dengan sistem kolam air mengalir meliputi komoditas ikan mas, nila, dan bawal.  Kemudian pada tahun 2013 beralih ke usaha budidaya ikan lele di kolam dan pada tahun 2015 dengan pendampingan dari BPBAT Mandiangin, beliau mulai menerapkan teknologi budidaya ikan lele menggunakan bak terpal bulat dengan sistem bioflok. 

Dengan hanya memanfaatkan luas lahan total 0.45 Ha, beliau telah membangun sarana budidaya dalam bentuk bak terpal bulat berdiameter 3 m sebanyak 25 unit, Kolam ukuran 8 x 8 x 1 m sebanyak 10 unit, Kolam ukuran 20 x 15 x 2 m sebanyak 4 unit.  Berdasarkan pendampingan dari teknisi BPBAT Mandiangin dan hasil percobaan, saat ini beliau menerapkan penggunaan probiotik (Smart Biofish) produk dari BPBAT Mandiangin dengan kepadatan tebar 500 ekor/m3.   Beliau terus berupaya untuk memperkecil nilai Food Conversion Ratio (FCR) yang saat ini berada di kisaran 1:1. 

Menurut Ismail, salah satu kendala dalam menjalankan kegiatannya adalah terkait pasar, hal ini karena masyarakat Kalimantan Selatan belum terbiasa mengkonsumsi ikan lele yang menyebabkan rendahnya harga ikan lele yaitu sekitar Rp. 10.000,-/kg.  Secara teknis, tidak ada kendala yang berat artinya teknologi ini mudah diaplikasikan dan tidak memerlukan banyak tempat dan juga biayanya murah.  Untuk itu PR yang harus diselesaikan adalah bagaimana menarik minat masyarakat untuk mengkonsumsi ikan lele, sehingga akses pasar bisa terbuka luas.

Ditanya mengenai tips agar usaha budidaya lele ini bisa sukses, Ismail dengan tegas menjawab bahwa kuncinya adalah keuletan dan selalu fokus pada satu kegiatan usaha budidaya. Menurutnya dalam memelihara ikan pikiran tidak bisa bercabang dengan usaha atau pekerjaan lainnya. “Usaha budidaya ini ibarat mengurus rumah tangga, jadi harus dilakukan dengan penuh tanggunjawab, fokus, ulet, kerja keras dan pantang menyerah, itu kuncinya”, jelas Ismail.

Ditambahkan Ismail, hasil produksi ikan lele sebelum menggunakan teknologi bak terpal bulat menghasilkan 35 kg/hari namun sekarang meningkat menjadi 1 ton/hari. Selain itu untuk mengembangkan usaha budidaya ikan lele ini juga melakukan kerjasama dengan POKDAKAN lain di Kota Banjarbaru. Teknologi budidaya ikan lele di bak terpal bulat ini telah mengalami modifikasi dengan menghilangkan aerasi dari blower yang memerlukan listrik diganti dengan memberikan aliran air masuk melalui pipa ke dalam tiap-tiap bak pemeliharaan. Modifikasi ini berpengaruh terhadap laju pertumbuhan dan masa panen ikan lele menjadi lebih cepat yakni 60 – 75 hari/siklus budidaya dengan ukuran panen size 4 – 8 ekor/kg dengan konversi pakan sebesar 1 yang berarti 1 kg pakan akan menghasilkan 1 kg ikan.

Sebagai gambaran, saat ini produksi ikan lele di Provinsi Kalimantan Selatan sekitar 60 – 70 ton/tahun, sedangkan hasil produksi ikan lele di tempat Pak Ismail saat ini 25 ton/tahun. Tantangan ke depan bahwa budidaya ikan lele semakin berkembang menyebabkan hasil produksi akan semakin meningkat sehingga pemasaran akan bersaing ketat. Harapan yang ingin diwujudkan di masa depan semoga hasil budidaya ikan lele dapat diolah menjadi produk olahan seperti fillet, kerupuk, abon, dan lain sebagainya.

BPBAT Mandiangin juga berupaya terus mendukung dalam bentuk pendampingan dan informasi teknologi budidaya serta bantuan paket berupa bak terpal bulat, pakan pelet dan benih ikan lele.