DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA MENDUKUNG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN KORUPSI    |    SERTIFIKASI PERIKANAN BUDIDAYA, JAMINAN KEAMANAN PANGAN DAN PENINGKATAN KUALITAS PRODUK MENUJU PASAR BEBAS ASEAN 2015    |    PERIKANAN BUDIDAYA MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN, MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN MENYERAP TENAGA KERJA    |    TINGKATKAN PRODUKSI, HAPUS KORUPSI    |    UNTUK SARAN DAN PENGADUAN DAPAT MENGHUBUNGI TELP/FAX (021) 3514779 ATAU EMAIL PENGADUAN.DJPB@KKP.GO.ID    |   

PRODUKSI DAN USAHA BUDIDAYA

MENUJU EKSPORTIR TERBESAR DUNIA

Sebagai negara tropis dengan potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang melimpah termasuk didalamnya potensi ikan hias, tidak heran saat ini Indonesia dijuluki sebagai “Home of Hundreds Exotic Ornamental Fish Species.  Potensi besar sumberdaya ikan hias nasional, tentunya menjadi nilai strategis tersendiri bagi Indonesia khususnya dalam menggenjot penerimaan negara dari sumber devisa atas ekspor ikan hias Indonesia. Dalam mewujudkan Indonesia sebagai produsen da eksportir ikan hias terbesar dunia, KKP melalui Ditjen Perikanan Budidaya akan menggenjot volume produksi ikan hias nasional, dimana tahun 2017 ini diproyeksikan mencapai 2,1 milyar ekor dan hingga tahun 2019 ditargetkan menjadi 2,5 milyar ekor.

 Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, dalam keterangan persnya saat menutup ajang Pameran dan Kontes Jakarta Ornamental Fish Festival (JOFF) 3rd di Food Centrum Sunter- Kemayoran Jakarta.

 Seperti diketahui, ajang JOFF ke-3 merupakan ajang tahunan yang diselenggarakan Jakarta Koi Center, Authorized agent of Ogata Koi farm Co. Jepang. Penyelenggaraan yang mempertemukan para hobies ikan hias koi ini juga dimeriahkan oleh berbagai ajang perlombaan diantaranya : National Guppy Show 2017, NND Keeping Contest, Red and White Keeping Contest, Jakarta Aquascaping Competition.  Ketua Umum APKI JOFF 3rd, Sugiarto Budiono mengatakan bahwa ajang kali ini merupakan salah satu upaya penguatan branding dan ajang promosi ikan hias dan tanaman hias Indonesia. “Momen ini tentunya sejalan dengan harapan Pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai eksportir terbesar ikan hias dunia”, ungkapnya saat dimintai keterangan.

Untuk mencapai target produksi ikan hias nasional tersebut, KKP akan menggenjot produksi pada sentra-sentra produksi ikan hias dan mengembangkan kawasan-kawasan potensial lainnya. Menurutnya, saat ini sentral-sentral ikan hias nasional masih didominasi oleh Propinsi Jawa Timur Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Banten, Maluku, dan Papua. Dengan nilai 579 milyar rupiah, Jawa Timur merupakan penyumbang terbesar nilai produksi ikan hias nasional yaitu sebesar 20% dari total total nilai produksi nasional pada tahun 2015 yang mencapai angka 2,8 trilliun rupiah.

Adapun penyumbang terbesar berasal dari ikan hias air tawar sejumlah 5 sepesies antara lain Platy, baster, komet, cupang dan koi sebanyak 392 juta ekor. Sedangkan ikan hias laut, ikan nemo menempati posisi tertinggi dengan angka produksi sebesar 307 ribu ekor, disusul kemudian kuda laut, mandarin fish, banggai cardinal, dan blue devil. 

Ditanya mengenai strategi bagaimana menggenjot produksi ikan hias nasional, Slamet menjelaskan bahwa dalam upaya pencapaian produksi, mutu dan nilai perdagangan ekspor, Pemerintah melalui Kemenko Bidang Kemaritiman akan mendorong asosiasi ikan hias dan penyelenggara jasa transfortasi untuk bekerjasama secara terpadu mewujudkan Indonesia sebagai produsen dan eksportir ikan hias terbesar dunia. 

Menurut Slamet setiadaknya ada 8 langkah-langkah strategis yang akan dilakukan yaitu : (1) peningkatan mutu melalui penerapan SNI dan CBIB Ikan Hias; (2) peningkatan produksi ikan hias, khususnya ikan koi dengan aplikasi vaksin, hormone, vitamin; (3) mendorong konservasi dan perlindungan habitat ikan asli Indonesia; (4) penguatan promosi dan pemasaran (branding); (5) pelayanan terpadu satu pintu; (6) meningkatkan kelancaran perdagangan dan transportasi; (7) penyeragaman data dan informasi produksi dan distribusi ikan hias; dan (8) pengawasan dan penegakan aturan.

Khusus kebijakan yang telah dijalankan oleh Ditjen Perikanan Budidaya dalam rangka meningkatkan produksi ikan hias Koi yaitu dengan program “Koidi” yaitu membudidayakan ikan hias dipadukan dengan cara bertanam padi, menggunakan minagrow dan vaksin” tegas Slamet. UPT Ditjen Perikanan Budidaya juga telah sukses melakukan domestikasi dan pernyakan spesies ikan hias asli Indonesia, seperti spesies Betta rubra asli Aceh, dan ikan biota asli Jambi, serta berbagai ikan hias asli Indonesia lainnya. “Ini tentunya merupakan keberhasilan bidang budidaya dalam turut serta menjaga keragaman ikan hias asli Indonesia”, ungkap Slamet.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pendapatan tertinggi RTP (Rumah Tangga Pertanian) di sektor agribisnis adalah RTP Budidaya Ikan Hias sebesar Rp. 50.848.000/tahun dan produksinya terus meningkat setiap tahunnya. Tahun 2015 tercatat volume produksi ikan hias nasional menembus angka 1,314 Miliar ekor.