DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA MENDUKUNG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN KORUPSI    |    SERTIFIKASI PERIKANAN BUDIDAYA, JAMINAN KEAMANAN PANGAN DAN PENINGKATAN KUALITAS PRODUK MENUJU PASAR BEBAS ASEAN 2015    |    PERIKANAN BUDIDAYA MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN, MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN MENYERAP TENAGA KERJA    |    TINGKATKAN PRODUKSI, HAPUS KORUPSI    |    UNTUK SARAN DAN PENGADUAN DAPAT MENGHUBUNGI TELP/FAX (021) 3514779 ATAU EMAIL PENGADUAN.DJPB@KKP.GO.ID    |   

UPT

PASTIKAN PASOKAN BENIH, KKP KEMBANGKAN TEKNOLOGI CORONG

Kabar gembira bagi pelaku usaha perikanan budidaya khususnya yang bergerak di bidang pembenihan ikan. Melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Ujung Batee Aceh, Kementerian Kelautan dan Perikanan sukses lakukan pengembangan teknologi di bidang perikanan budidaya khususnya pembenihan ikan Nila Salin. UPT Perikanan Budidaya di ujung paling barat Indonesia tersebut berhasil mengembangkan teknologi pembenihan ikan Nila Salin dengan sistem corong. Keberhasilan ini membuat kebutuhan benih ikan yang terus meningkat, semakin terjamin dan aman pasokan benihnya.

 

Teknologi murni karya anak negeri ini merupakan teknik pembenihan ikan Nila Salin dengan menggunakan perangkat utama berupa tabung menyerupai sebuah corong dan resirkulasi air secara terus – menerus. Perlakuan ini memungkinkan telur ikan yang berada dalam tabung corong akan mengikuti pergerakan sirkulasi air sehingga dapat mencegah antar telur lengket atau menggumpal sehingga presentase tingkat penetasan telur atau hatching rate (HR) meningkat drastis.

 

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, saat dimintai keterangannya, Selasa (02/08) menyampaikan “Kita memiliki lahan tambak yang banyak yang dapat dimanfaatkan  untuk budidaya ikan Nila Salin”. Teknologi pembenihan dengan sistem corong ini akan mampu menggenjot peningkatan produktivitas dan produksi benih Nila Salin” jelas Slamet.

 

Dihubungi secara terpisah, Kepala BPBAP Ujung Batee, Bukhari Muslim menjelaskan tentang cara kerja teknologi pembenihan ini, yaitu dengan memanfaatkan tabung corong dan resirkulasi air. Tabung corong berfungsi untuk menampung telur dan mengatur suhu air. Kemudian air dialirkan masuk ke dalam corong dan berfungsi untuk mengaduk telur agar tidak menumpuk di dasar tabung corong. Untuk mencegah agar telur tidak keluar corong tapi juga tidak menggumpal maka tekanan air diatur sedemikian rupa. Telur yang sudah menetas dan menjadi larva kemudian akan jatuh mengikuti arus air dan tertampung dalam jaring yang sudah disiapkan dalam bak penampungan larva.

“Teknologi pembenihan dengan sistem corong merupakan teknologi sederhana, namun sangat efektif dalam menaikkan tingkat penetasan telur. Dibandingkan teknik pembenihan umumnya, perbedaan hanya pada penambahan peralatan berupa tabung corong dan mengatur sirkulasi air. Oleh karena itu, teknologi ini sangat adaptif dan dapat diterapkan di masyarakat” tambah Muslim.

Untuk menerapkan teknologi sistem corong agar masuk skala ekonomi, pembudidaya minimal memiliki 5 tabung corong berdiameter 15 cm dan tinggi 50 cm ditambah dengan untuk membeli alat-alat lainnya seperti tabung filter (waterco), jaring penampung dan mesin pompa maka hanya dibutuhkan biaya sekitar Rp. 2 juta. Dari 5 tabung corong kapasitas 5 liter per tabung tersebut maka pembudidaya setidaknya dapat memproduksi sekitar 300 ribu – 500 ribu benih Nila Salin per tahun.

BPBAP Ujung Batee sendiri saat ini memiliki sekitar 30 tabung dan mampu memproduksi  3,6 juta benih ikan Nila per tahun. Strain ikan Nila yang dikembangkan yaitu Nila Sultana dan Gesit, yang di Aceh biasa disebut dengan Nila Payau. Sebagaimana Nila salin, Nila Payau juga dibudidayakan diperairan payau. Benih Nila Payau produksi BPBAP Ujung Batee telah dimanfaatkan oleh pembudidaya ikan di berbagai wilayah di Provinsi Aceh seperti kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireun, Aceh Utara, Lhoksumawe, Aceh Timur, Langsa, Aceh Jaya, Nagan Raya, Melabouh, Aceh Barat Daya, Tapak Tuan, dan  Aceh Tengah. Teknologi ini juga sudah mulai diterapkan oleh pembenih di Kota Pematang Siantar Provinsi Sumatera Utara.

 

Naikkan Tingkat Penetasan Telur (HR/ Hatching Rate) hingga> 90%

 

Sebagai perbandingan, nilai HR untuk pembenihan dengan sistem konvensional hanya mencapai 20 – 40 %. Sedangkan dengan menggunakan teknologi sistem corong, maka HR dapat didorong hingga mencapai 90%. Nilai HR sebesar ini merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa dalam proses penetasan telur ikan Nila Payau.

 

Untuk diketahui, berdasarkan data KKP tahun 2011 – 2015 produksi benih ikan air tawar secara nasional mengalami kenaikan rata rata 20,26% pertahun. Kenaikan produksi benih tersebut seiring dengan kenaikan produksi perikanan budidaya, yaitu rata – rata 19,08% dalam rentang waktu yang sama.

 

Produksi perikanan budidaya pada tahun 2015 mencapai 15,63 juta ton dimana dari volume produksi tersebut, budidaya air tawar menyumbang sebesar 2,81 juta ton. Untuk memproduksi ikan air tawar sebesar itu, produksi benih ikan air tawar tahun 2015 mencapai 72,3 milyar ekor. Sedangkan untuk kebutuhan benih semua jenis ikan (tawar, payau dan laut) diproyeksikan pada Tahun 2019 mencapai 141,1 milyar ekor. Produksi benih sebesar itu diharapakan dapat mendukung target produksi perikanan budidaya yang juga terus meningkat. Pada tahun 2019, produksi perikanan budidaya ditargetkan mampu mencapai 31,3 juta ton.

 

Lebih lanjut Slamet menerangkan bahwa teknik pembenihan dengan sistem corong bagi ikan Nila ini merupakan pengembangan dari keberhasilan teknologi serupa yang terlebih dahulu diterapkan untuk komoditas lainnya. Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam – Jambi misalnya, telah berhasil menerapkan teknologi ini untuk pembenihan ikan Patin. “Inovasi teknologi pembenihan dengan sistem corong ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh para pembudidaya di berbagai wilayah di Indonesia serta prinsip – prinsipnya juga dapat diadopsi untuk pembenihan jenis ikan yang lain, sehingga produksi berbagai jenis benih ikan akan terjamin dan mampu mendukung kenaikan produksi perikanan budidaya” tutup Slamet.